30 Sep 2016

Taman siang,.. Kamu.

Siang ini cukup terik dengan tidak ada sama sekali awan yang menutupi sinar matahari untuk langsung meluncur ke bumi, tapi anehnya udara yang berhembus cukup sejuk. Matahari dengan tanpa halangan mengawasi setiap apa yang terjadi diatas bumi siang ini. Sedangkan aku masih merenung di bangku taman tempat biasa aku menghabiskan jatah makan siangku. Keseluruhan prosesnya terjadi sama saja dengan hari biasanya, aku memakan makan siangku sambil menikmati udara taman. Bangku tempat biasanya aku menghabiskan siangku cukup teduh walaupun siang ini cukup terik. Dengan ditutupi oleh dedaunan dari pohon yang aku tidak kenal apa namanya, cukup rindang untuk menutupiku dari sengatan matahari siang.

Sambil menyantap makan siang yang sudah kubeli di tempat langgananku, tiba-tiba aku melihat ada yang berbeda dengan pemandangan taman ini, terutama di bangku seberang yang biasanya selalu kosong kala siang, hari ini tampak berbeda dengan sesosok mahluk memakai gamis hitam  menghiasinya. Hanya kolam bundar dan berisi setengah penuh yang memisahkan kami. Dengan makan siang yang sepertinya sama dengan makan siang yang aku beli, dia tampak tidak menghiraukanku sama sekali yang sedari tadi mengawasinya. Dengan seksama aku terus memperthatikan apa yang dia lakukan, selain menghabiskan makan siangnya, sesekali dia memandangi telepon selulernya dengan raut muka tersenyum, kadang juga dia seperti terkaget kala membukanya. Entah apa yang ada di dalam Handphone yang sedari tadi menemaninya, aku juga bingung. Sesaat kemudian aku baru tersadar bahwa telepon genggamku berbunyi, ada panggilan dari rekan kantor yang harus segera kujawab. Setelah berbicara sebentar dan berpikir, aku segera merapikan sisa makan siangku dan bergegas kembali ke kantor karena ada yang harus kuselesaikan. Kupandang lagi bangku dipojok tadi yang hari ini cukup membuatku terus menereus menatapnya. Mahluk yang sedari tadi ku awasi sudah hilang dari tempat dia tadi berada. Makan siang hari ini cukup berbeda dari biasanya.

Hari berikutnya terjadi hal yang sama dengan hari kemarin, sosok itu kembali ke bangku taman yang selama ini kosong. Dengan gamis yang berbeda, dia kembali dengan aktifitasnya yang sama dengan hari kemarin. Aku yang sedari tadi memperhatikanya, kaget ketika tiba-tiba dia menatapku cukup lama. Salah tingkah adalah hal yang pertama kali aku lakukan. "bodoh", kataku dalam hati seraya memalingkan pandangan dan beberapa saat kemudian beranjak untuk kembali ke kantor.

Keesokan harinya aku tidak makan siang di tempat biasanya aku merenung, ya taman itu. Bukanya aku tidak mau, tapi ada kewajiban yang harus kujalankan dan harus menyita waktu merenungku siang ini. Pikiranku terus saja memikirkan kejadian kemarin. Apa sebenarnya yang ada di pikiran wanita itu kala tersadar saat aku memperhatikanya dari seberang taman yang hanya di batasi dengan kolam bundar yang isinya setengah penuh itu.

23 Sep 2016

Hujan di Jakarta


Mendung sedari pagi sudah menggelayuti langit kota Jakarta. Sepertinya hujan akan turun, tapi entahlah aku juga tidak tahu. Seperti biasanya jalan pagi ini sudah mulai ramai dengan kendaraan lalu lalang menuju ke tujuanya masing-masing. Angin segar masih sedikit terasa, karena panas matahari yang biasanya terik, masih tertutup oleh awan mendung. Sedikit teringat tentang hujan, bahwa ada ungkapan Hujan adalah waktu dimana kita akan teringat tentang masa lalu yang indah yang masih tertanam di memori. Hujan menjadi trigger untuk menumbuhkan sisa umbi pikiran di dalam memori, untuk memunculkan tunas dan kembali ke permukaan ingatan. Terbayang tentang dia yang sudah jauh disana dan tidak ada kabar lagi. Tentang sawah luas dan ladang tempat berbagi keceriaan dengan teman sebaya di kampung. Hingga masakan khas rumahan hasil karya ibu yang selalu mengingatkan kepada rumah yang selalu menawarkan kenangan indah. Hujan di jakarta, terkadang juga membawa sedikit rasa galau. Bukan galau karena kekasih direbut orang atau kisah roman picisan lainya, tetapi lebih ke kenyamanan hidup. Banjir, Macet dan beberapa hal lain sebagai penyebabnya. Air akan menggenang jika hujan di Jakarta berlangsung cukup lama. Jalan-Jalan kadang menjadi kolam dadakan karena got sudah tidak mampu menampung tumpahan hujan yang cukup banyak sehingga membuat lalu lintas menjadi semakin padat.

Hujan akhirnya turun juga di jakarta yang masih cukup pagi untuk pekerja seperti aku. Tidak sederas hujan kemarin malam, tapi cukup untuk membasahi kulit bumi. Menimbulkan petrichor yang cukup untuk menjadikan pagi ini menjadi sedikit sendu. Teh manis hangat telah siap di atas meja kerja yang sedikit berantakan dengan laptop yang sudah terbuka menampakan layar tulisan. Tiba-tiba sedikit teringat kisah perjalanan alam yang dihiasi hujan beberapa tahun lalu. Perjalanan awal yang menjadi langkah pertama perjalanan-perjalanan ku yang lain. Dengan beberapa kawan yang mungkin saat ini sudah tidak berada dekat denganku. Awal dari perjalanan ini adalah perbincangan sore di depan teras kantor yang cukup terbuka. Angin sore dan lalu lalang pedagang kaki lima menghiasai perbincangan kami. Perbincangan yang awalnya hanya sebagai acara iseng dan pelepas penat setelah kerja, berubah menjadi perbincangan serius tentang perjalanan kecil ke suatu tempat. Kecil memang tapi cukup membuat kami tertarik, karena selama ini, kita terutama aku adalah anak rumahan yang keluar rumah jika hanya ada keperluan saja. Tempat yang kami bicarakan adalah salah satu curug ramai dan terkenal yang ada di bogor.

Setelah perbincangan itu beralalu beberapa hari, akhirnya kami berangkat. Dengan suasana yang sama dengan hari ini, yaitu Jakarta yang mendung berat berwarna hitam, kami memulai perjalanan. Dan benar saja sesampainya di tujuan, hujan turun. Tidak deras tapi cukup membuat kami basah kuyup dalam beberapa menit saja. Karena hujan, kami yang baru pertama kali melakukan perjalanan layaknya pecinta alam yang sesungguhnya, cukup kuwalahan. Disamping udara yang dingin, fisik kami masih terlalu awam untuk berjalan di jalan yang cukup terjal menantang. Dengan susah payah akhirnya kami sampai juga ditujuan dengan rasa bahagia.

Hujan di Jakarta..

Mendung sedari pagi tak kunjung hilang dari wajah langit. Mungkin matahari sedang malas untuk memandang wajah jakarta yang sedikit kusam dari ketinggian. Siang menjelang sore ini pun terasa seperti sore menjelang malam. Sedikit rasa dingin dari luar ruangan, karena angin cukup untuk membawa hawanya hingga ke dalam. Pikiranku masih saja fokus dengan layar laptop yang terus mengeluarkan suara musik dari dalamnya. Sisa hujan memang membawa kenikmatan tersendiri untuk dikolaborasikan dengan alunan musik sendu mendayu. Membuat pikiran melayang-layang mencari kemana arah kenangan yang dulu sempat singgah.

Beberapa waktu berselang, mata mulai menggelayut manja meminta istirahat untuk kesekian kalinya. "Kopi nampaknya nyaman untuk saat seperti ini", Gumamku. Tak kulihat seorang office boy pun yang nampak di sekelilingku untuk sekedar dimintai tolong. Terpaksalah aku harus bangkit sendiri untuk sekedar menyiapkan kopi dan sedikit berjalan-jalan di sekitar kantor yang penuh dengan karyawan yang sedang bekerja ini. Suasana sepi lengang di tengah karyawan yang tengah sibuk dengan pekerjaanya masing-masing. Mereka seperti berada di dunia mereka masing-masing dan berpetualang di dalamnya. Imajinasi macam apa yang ada di pikiran mereka, mungkin sama sepertiku atau tak taulah. Inilah aku seorang petualang kenangan yang bisa tiba-tiba saja berada di tempat lain,tempat kenangan dulu yang membuat rindu. Sesekali terdengar nada notifikasi dari handphone para karyawan yang menandakan ada pesan masuk. Telepon pun kadang berbunyi sebagai musik pemecah keheningan kantor yang dalam beberapa jam lagi akan bertambah kesunyianya.

Hujan di Jakarta..

Sehari penuh mencari berkah yang disebar di seluruh bumi, pulang akan menjadi sesuatu yang sangat dinanti untuk kembali membuat otak dan hati menjadi kembali segar. Tidak ada yang spesial dari pulang hari ini, hanya gerimis yang sedikit nampak, dan mudah-mudahan tidak bertambah  besar seiring bertambahnya waktu. Hiruk pikuk jakarta di kala senja akan sama seperti pagi di jakarta, ramai lalu lalana manusia menuju ke tempat tujuanya masing-masing. Menanti malam yang sebentar lagi menjelang, beristirahat untuk menyongsong esok hari.